Selawat atas nabi

Selawat atas nabi

Monday, February 07, 2011

PK1 Encik Azizan sudah keluar dari Wad

Tetapi buat hari ini beliau masih berehat dirumahnya.
Warga sekolah mengucapkan syukur dan terus berdoa supaya beliau segera sembuh.

Wednesday, February 02, 2011

From E-mail

Best Regards,

Mohd Hanif

DL - IPH Sub-System Engineering Dept

Finisar (M) Sdn. Bhd

: / ): Hanif.Meerakutty@finisar.com

(/ &:+605- 2907800 (Ext : 8833)

Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian .

Kecuali orang2 yang beriman dan beramal soleh

Yakni mereka yang berpesan-pesan dengan

kebenaran dan sabar...

From E-mail

Best Regards,

Mohd Hanif

DL - IPH Sub-System Engineering Dept

Finisar (M) Sdn. Bhd

: / ): Hanif.Meerakutty@finisar.com

(/ &:+605- 2907800 (Ext : 8833)

Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian .

Kecuali orang2 yang beriman dan beramal soleh

Yakni mereka yang berpesan-pesan dengan

kebenaran dan sabar...


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMq2qhjDFYMtFvH09bsmGHEQrJpYTCo5fNMTB8Ex9yK8WUoRphqBkRhmVw7lk9fx15Ikm8-w9JWs83mHGmDAHHZmfOXRB8mlYELNkSR9957fqinyBax8ye1oyKz8u0GZL40FnMJw1d-HaN/s400/301120101797.jpg

PUTRAJAYA - Tindakan tidak berperikemanusiaan seorang pengasuh yang bertindak menampal mulut, muka dan tangan anak asuhannya dengan pita pelekat semata-mata untuk memaksa kanak2 itu diam memakan diri apabila dia ditahan baru2 ini.

Pengasuh berusia awal 20-an itu ditahan pada pukul 4 petang pada 23 nOvember lalu di sebuah taska di Presint 14 di sini selepas pOlis menerima satu lapOran daripada ibu Raif Alfian Farid Alfian, 18 bulan.

Kejadian tersebut telah berlarutan sejak OgOs lalu tetapi hanya diketahui ibu mangsa, Hazlina Rahmat, 29 apabila dia dimaklumkan Oleh penjaga kepada kanak2 lain yg turut menghantar anak mereka ke situ 18 nOvember lalu.

Hazlina ditunjukkan sekeping gambar di mana tertera imej anaknya yg sedang menangis dgn mulut, muka serta tgn nya dilekat dan diikat dgn pita pelekat.

Difahamkan taska tersebut mempunyai 5 pengasuh yg mengasuh lebih 30 Orang kanak2 berusia antara 2 bulan hingga 6 tahun dengan kadar bayaran RM300 sebulan.

Hazlina mendakwa, walaupun masih belum pandai bertutur, Raif seakan cuba memberitahunya sesuatu kerana kerap menangis dan menendangnya setiap kali hendak ke taska tersebut.

“Anak saya akan menangis @ merengek kerana dia trauma setiap kali ternampak benda yg dilekatkan dgn pita pelekat.”

“Saya cuba bersemuka dgn pemilik taska namun dia menafikannya sehinggalah saya membuat lapOran pOlis.”

Dakwa Hazlina, terdapat kanak2 lain yg turut dilayan dgn buruk seperti tgn mereka dimasukkan ke dlm laci & dibiarkan menyusu sendiri.

sumber: Kosmo 30 nOv. 2010

---

minta dijauhkan dari jadi kat anak sendiri..

From E-mail

Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian .

Kecuali orang2 yang beriman dan beramal soleh

Yakni mereka yang berpesan-pesan dengan

kebenaran dan sabar...

7 Masjid Berkubah Emas Di Dunia

Posted by TINTA HIJAU DARI KAKI BUKIT

1. Masjid Qubbah As Sakhrah / Dome of the Rock di Yerusalem, Palestina

Masjid Qubbah As Sakhrah atau di kenal dengan Dome of the Rock dibangun pada sekitar tahun 690M oleh Abdul Malik bin Marwan yang merupakan salah seorang raja dalam bani Umayah dan kemudian diikuti dengan pembangunan Masjidil Aqsa yang selesai pada tahun 710M. Masjid ini dahulu, di anggap sebagai masjid Al Aqsa. Sebahagian orang juga menganggap bangunan ini bukanlah masjid melainkan hanya tumpukan batu besar.

2. Masjid Al-Askari di Samarra, Irak

Masjid Al-Askari merupakan masjid syiah yang di bangun pada tahun 944 M. Masjid ini terletak di kota Samarra , Irak. Namun sayangnya masjid ini hancur pada bulan Februari 2006 akibat tidak langsung dari pencerobohan Amerika Syarikat ke Irak.


3. Masjid Suneri, Lahore , Pakistan

Masjid Suneri memiliki 3 kubah emas. Satu kubah utama, 2 lainnya di sisi kanan dan kiri. Masjid ini didirikan oleh Nawab Syed Bhikari Khan, anak Wakil Gubernur Lahore pada tahun 1753 M.


4. Masjid Jame’ Asr atau Masjid Bandar Seri Begawan di Brunei

Masjid yang merupakan bagian dari kompleks Istana Bolkiah didirikan pada pertengahan tahun 1980-an untuk memperingati 25 tahun Sultan Hassanal Bolkiah berkuasa. Masjid ini memiliki 29 kubah yang terbuat dari emas murni 24 karat. Bangunan yang terletak di tengah taman yang asri ini mempunyai luas hampir 2 hektar lebih. Keseluruhan kawasan masjid ini dipagari dengan kisi-kisi besi dengan panjang kira-kira 1.082 km. Terdapat lima pintu masuk ke lokasi ini, disamping dua pintu khusus untuk keluarga kerajaan dan tamu negara. Masjid ini memiliki 4 menara yang masing-masing tingginya 189 kaki, dimana ada sekitar 297 anak tangga pada setiap menara tersebut. Melalui menara ini, pengunjung bisa melihat pemandangan sekitar masjid dan juga pemandangan Bandar Seri Begawan dan Kampong Ayer.


5. Masjid Sultan Singapura

Tahun 1928, begitu mendapat wang dari Kongsi Dagang Inggeris sebanyak SGD 3000, Sultan Singapura langsung merenovasi sebuah masjid yang ada di kawasan Little India. Perubahan antara lain juga dengan mengganti kubah lama dengan kubah emas. Masjid ini segera menjadi masjid terbesar di Singapura, dari sekitar 80-an masjid yang ada.

Lain halnya di Singapura. Seberapa pun besar masjid dibangun di sini, tak 1 dB-pun bunyi adzan boleh dilantunkan. “Menganggu ketenangan,” kata seseorang. Meski muslim perlu pengingat solat yang unik seperti adzan, tapi kerana pemerintah tidak memahami kepentingan “adzan” maka adzan dilarang bunyi. Kerana minoriti maka muslim di Singapura diam saja. Diam juga pilihan dan mereka membunyikan adzan lewat speaker dalam ruangan masjid saja: tak sampai keluar.

Satu-satunya (mungkin) masjid yang boleh membunyikan adzan adalah masjid Sultan di sekitar Arab Street . Masjid Sultan adalah masjid tertua kedua di Singapura dan dikategorikan national heritage. Oleh sebab itu, ia mendapat perkecualian.


6. Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin Brunei

Brunei memiliki 2 masjid yang berkubah emas. Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin adalah yang didirikan pertama kali. Mulai digunakan tahun 1958, masjid ini terletak di tengah danau buatan yang bersih. Kubahnya terbuat dari emas 24 karat. Biaya pembangunannya menghabiskan USD 5 juta. Pada zamannya, Masjid Sultan Omar Ali diperhitungkan sebagai salah satu bangunan terindah di dunia.


7. Masjid Dian Al Mahri di Depok, Indonesia

Masjid dengan kubah emas yang terbaru adalah Masjid Dian Al Mahri yang letaknya di Depok, Jawa Barat, tepatnya di Jalan Meruyung, Kelurahan Limo, Kecamatan Cinere, Depok. Masjid ini mulai di bangun pada tahun 1999, dan di rasmikan pada bulan April tahun 2006. Masjid ini merupakan milik peribadi dari Hajjah (Hj) Dian Djurian Maimun Al-Rasyid, seorang pengusaha dari Serang, Banten dan pemilik Islamic Center Yayasan Dian Al-Mahri.

Masjid ini luas bangunannya mencapai 8.000 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 70 hektare. Secara umum, senibina masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.

Halaman dalam berukuran 45 x 57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah. Enam menara (minaret) berbentuk segi enam, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India . Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimport dari Italia.

Dari e-mail

Giant 500-Year-Old Copy Of Quran Too

Fragile To Be Displayed
Last updated at 2:06 PM on 19th January 2011

Library To Publish Pages Online To Give Scholars Access

A Rarely-Seen Manuscript Of One Of The World's Most important Copies Of The Koran is To Be Published Online.

The Hand-written holy book, estimated to be around 500 years old, is so precious and fragile scholars have been unable to put it on display.

Now experts at the University of Manchester 's John Rylands Library are using digital technology to photograph each page and publish the book online to enable scholars and students to study it.

Analysis of the digital images should aid scholars to date the manuscript more accurately.


The hand-written copy of the Koran, with each page the size of a large

plasma screen TV, is to be published online because it is too fragile to be put on display


The fragile 470-page book is kept by in the University of Manchester 's John Rylands Library

It is believed to have originated from Cairo from the library of Kansuh al-Ghuri,

one of the last Mamluk Sultans of Egypt.

SO, WILL IT FIT ON MY BOOKSHELF?
Each of the 470 pages measures 35in by 24in, the size of

a large plasma screen TV.

The ornate book was written by several scribes and illuminators for

Kansuh al-Ghuri, the penultimate Mameluke sultan of Egypt .

The paper it is written on was made from bombycine, a silken fabric which after

sizing is polished with smooth stones so that the ink sits on the surface rather than being

absorbed (similar in properties to vellum).

Historians disagree on when it was written, with estimates ranging from

the second half of the 14th century to 1500.

It was kept in the sultan's library in Cairo and was eventually acquired by the Earl of Crawford.

The Koran was one of several manuscripts which formed the Crawford Collection,

artefacts acquired by various Earls of Crawford, which was bought by

Enriqueta Rylands in 1901 and became part of her husband's library the John Rylands Library.

The library eventually formed part of the University of

Manchester in 1972 which is where it is now.

Known as the Rylands Koran of Kansuh al-Ghuri, it has two missing pages,

or leaves, which were discovered in the 1970s at the Chester Beatty Library in Dublin .

The missing pages will also be captured in digital images

and reunited with the book on the internet.

At least 950 images will be captured - which will be between 80 and 120MB each - allowing their study in intricate detail.

It will eventually be freely available for research, teaching and

learning using Turning the Pages technology on a dedicated website.

Project manager Carol Burrows, collection and research support manager at the

John Rylands Library, said: 'Because of its size and weight, reading room access

has been severely restricted to all but a handful of scholars. It cannot be used

in exhibitions, seminars or public close-ups.

'It will certainly be challenging to photograph this enormous manuscript,

as it is too large and heavy for the equipment we normally use.

'However, we have constructed dedicated equipment

which will achieve this aim.'

Dr Andreas Christmann, senior lecturer in Islamic Studies at the University’s school of Arts ,

Histories and Cultures said: 'Although one of the biggest assets of the John Rylands Library,

this Koran has not been available for either research or teaching because of its delicate state.

'We know it represents one of the finest, most lavishly illuminated and

calligraphically significant Qur’an manuscripts from the late Mamluk period.

'Because of its time of writing - 14th or 15th century – it bridges the gap in

chronicling Qur’anic calligraphy between the late classical period - 9th-12th century and

the early modern period - 16th-18th century.

'By digitising the entire manuscript and adding the missing chapters it will

produce an almost complete Qur’anic manuscript of magnificent size

and splendid craftsmanship.

'I’m delighted scholars, including students of my class in Qur’anic Studies,

will have free access to studying this text, which will provide a great stimulus

for further research into Qur’anic calligraphy.'

The Koran was purchased by the library in 1901 as part of the Crawford collection

of manuscripts, a collection of artefacts acquired by various Earls of Crawford.

The project has been funded by the Islamic Manuscript Association.


Photographer Jamie Robinson leafs through the pages of the holy book, which is

believed to have originated from Cairo from the library of Kansuh al-Ghuri,

one of the last Mameluk sultans of Egypt


The book was written by several scribes some time between the

second half of the 14th century to 1500


Experts at the library are using digital technology to photograph each page and

publish the book online to enable scholars and students to study it

En Azizan dah keluar dari Wad


Gambar Kenangan